Lingkungan sekitar juga dapat mempengaruhi apa yang akan Anda lakukan. Namun, sekali lagi kita harus ingat bahwa kebahagiaan ada dalam diri kita masing-masing. Jika kita sadar kebahagiaan ada di dalam, situasi lingkungan tidak akan banyak mempengaruhinya.
Seorang penyanyi misalnya, sejatinya bernyanyi diatas panggung adalah tempat ia merasa paling bahagia. Berapa bayarannya? itu urusan belakang. Yang penting ia bahagia bisa mengekspresikan diri, menunjukkan kemampuannya, sekaligus menghibur orang lain. Namun jika niat utama itu bergeser, misalnya menjadi penyanyi semata untuk mencari uang, kesadaran akan suara hatinya juga ikut bergeser. Dengan kata lain, ia mulai lupa dengan apa yang dulu membuatnya bahagia.
Menurut teori tersebut, manusia dengan cepat beradaptasi dengan hal-hal menyenangkan dan menerimanya begitu saja. Senjalan dengan meningkatnya harta dan kesuksesan seseorang, maka meningkat pula harapannya. Dengan demikian, benda-benda yang dulu berhasil Anda dapatkan dengan susah payah tidak lagi menimbulkan kebahagiaan. Karena, Anda memerlukan sesuatu yang lebih untuk meningkatkan level kebahagiaan Anda. Namun ketika sekali lagi berhasil mencapainya, Anda akan kembali beradaptasi. Siklus ini akan berjalan terus menerus, kalau kita tidak mulai berlatih untuk mengendalikannya.
Tapi, kebahagiaan akan selalu memanggil, karena sesungguhnya dia tetap ada di dalam diri kita. Secara alami, semua orang pasti akan menemukan kebahagiaannya. Yang kerap menjadi masalah hanyalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapainya.
Untuk menemukan kembali kebahagiaan, kita harus terampil berkomunikasi dan menjaga hati. Caranya, dapat dilakukan menurut tuntunan masing-masing individu. “shalat, Meditasi, Yoga, adalah contoh cara masuk ke dalam hati. Tujuan dari ritual tersebut adalah untuk menurunkan gelombang otak dari wilayah Beta (yang ada dipikiran/rasio) menjadi Alfa dan Tetha yang berada di hati. Gelombang di wilayah hati tersebut adalah tempat rasa nyaman dan damai. Seperti kita memasak, ritual ini harus dilakukan secara sadar. Jika anda memasak dengan tidak sadar, besar kemungkinan masakan akan hangus atau rasanya yang tidak enak. Begitu juga Sholat, dzikir, yoga dan lain-lainnya, jika tidak dilakukan dengan sadar, efek “membaca hati” tidak akan tercapai. Jika sudah ahli mengoperasikan hati, Anda tinggal menyesuaikan sesuai kebutuhan. Saat ini memakai pikiran, dua jam lagi memakai hati.
Dengan ikhlas, kita dapat menjaga apa yang ada di dalam hati agar sama seperti yang diluar, walau tidak sama atau benar-benar seimbang, minimal kita mampu menikmati hidup walau cuaca sedang panas atau hujan, karena semua itu memang harus kita lalui.
Tanda-tanda keikhlasan terlihat jika kita mampu mengubah perasaan-perasaan negatif menjadi perasaan nyaman, damai, cinta, syukur, dan bahagia. Dengan berhasil mencapai tahap ikhlas, kita hanya perlu menekan tombol ikhlas yang ada di dalam diri kita untuk menjadi bahagia. Jika sudah tercapai, mekanisme alam akan membuat urusan-urusan lain menjadi lancar. Solusi berbagai macam masalah, bahkan rezeki pun dapat datang dari segala arah yang tidak disangka-sangka. Hidup jadi menyenangkan, bukan?
(Firdaus R. – dikutip dari majalah Healthylife)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar